Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet yang cukup besar. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, jumlah pengguna internet yang mengakses di komputer maupun ponsel mencapai sekitar 45 juta. Hal ini menggerakkan sejumlah generasi muda untuk berkarya dan menekuni dunia teknologi informasi (TI) dengan menciptakan sebuah web atau situs yang bermanfaat untuk khalayak. Sejumlah start up companies muncul, dengan menawarkan pula sejumlah ide yang dituangkan dalam sebuah situs. Salah satunya adalah Urbanesia.com

Urbanesia.com didirikan oleh Selina Limman, dengan menggandeng dan Natali Ardianto (Ade) yang menempati posisi CTO (chief technology officer) Urbanesia. Mereka memulai start up ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan masing-masing terhadap web sejenis. Pada akhirnya mereka bekerja sama untuk membangun website city directory. Bagaimana website ini berkembang? Apa yang membuat Urbanesia akhirnya menjadi startup yang manarik dan menjanjikan secara bisnis yang membuat East Ventures akhirnya membeli sebagian sahamnya? Berikut perikan wawancara wartawan SWA, Army Meidinasari, dengan Selina dan Ade:

Bagaimana latar belakang didirikannya Urbanesia?

Selina: Kebetulan, dari dulu saat sekolah di luar negeri, saya sering pakai website city directory seperti Urbanesia. Saya lihat di sini belum ada. Website seperti ini yang mempunyai informasi tentang bisnis lokal dan kecil yang sangat dibutuhkan. Sebelumnya, saya juga pernah kerja bareng dengan Ade. Saya resign untuk memulai proyek Urbanesia. Terus ketemu lagi, kebetulan Ade punya keinginan yang sama untuk membuat bisnis ini. Kalau Ade terinspirasi dari website yang pernah dia kerjakan untuk klien. Kebetulan kami punya visi yang sama, sehingga kami bergabung untuk jalanin bisnis ini. Saat itu saya juga juga belum punya partner untuk programming. Dan, dari awal sampai sekarang banyak banget perkembangannya. Kami coba develop, kami ubah lagi, modify lagi, sehingga menjadi Urbanesia seperti sekarang. Total sumber daya manusianya hingga saat ini ada 17 orang, paling besar tim data entry.

Berapa budget yang digunakan?

Selina: Yang jelas waktu itu sudah ada budget, tapi sempet ada tambahan dari yang direncanakan semula.

Platform teknologi seperti apa yang digunakan di Urbanesia?

Ade: Secara teknologi basisnya pakai php, database-nya sql. Itu standar. Di Urbanesia, kami memanfaatkan Google Map, sehingga kami bisa mencari rute di Indonesia. Urbanesia lebih menekankan pada location based service-nya, teknologi search, yang tidak hanya mencari kata kunci, tapi juga jarak. Makin dekat jaraknya, nilainya makin besar. Makin baru update-nya, posisinya makin tinggi. Kami membuat website tidak hanya menampilkan informasi, tapi juga optimalkan search engine. Di situlah kekuatan website kami.

Selina: Location based service itu penting, dan nantinya searching melalui Urbanesia hasilnya lebih akurat dibandingkan Google. Sekarang kan sudah information overload, banyak halaman-halaman di internet yang sudah diindeks oleh Google. Urbanesia membantu menyaring informasi.

Apa peranan teknologi Web 2.0 untuk Urbanesia?

Selina: Waktu baru bikin Urbanesia, kami sadar bahwa peranan user penting banget untuk bantu kami melakukan update. Untuk business owner, juga bisa memberikan informasi paling update. Dengan web 2.0 ,semua user dapat berpartisipasi dalam website ini, misalnya mau menambahkan info bisnis, mau menulis testimonial, tambah foto, atau nge-tag peta longitude attitude. Web 2.0 digunakan agar user bisa berpartisipasi untuk menambahkan konten. Kalau rule-nya di internet Web 2.0 itu 90% konten diisi oleh business owner dan 10% dari user.

Siapa target utama dari Urbanesia?

Selina: Primary target kami adalah warga kota pengguna internet yang lebih konsumtif, seperti pekerja, keluarga muda atau student yang mungkin aktif dalam mengikuti tren gaya hidup sehari-hari. Secondary target audience-nya adalah business owner, dan mereka yang aktif mengkontribusi konten. Sebetulnya, user yang primary ini akan datang kalau ada kontennya. Makanya, kami support dengan content generator. Urbanesia ini adalah city directory, tapi platform di bawahnya ada social networking, yang nantinya terkoneksi ke Facebook, Twitter, dan bisa untuk verifikasi user di konten.

Model bisnisnya sendiri apa?

Selina: Sekarang, sebagian besar user memakai servis di Urbanesia, semuanya gratis. Yang bayar adalah business owner atau korporat yang kami kami servis untuk listing di Urbanesia.

Seberapa banyak iklan yang tayang di situs ini?

Selina: Kami nggak menggantungkan revenue dari iklan. Iklan lebih untuk meng-highlight konten, misalnya iklan acara, bisnis ritel, dan lain-lain. Untuk iklan, sekarang kami bekerja sama dengan Adnetwork.

Sudah berapa member yang dimiliki Urbanesia hingga saat ini?

Selina: Kami memiliki 5.000 anggota aktif. Tapi, kami belum launch. Urbanesia masih versi beta. Urbanesia mulai di-develop pada akhir 2008, dan versi beta di-launch November 2009. Sebenarnya, sekarang kami sudah rilis Urbanesia lewat media, tapi belum official launch. Saat ini, dalam sebulan, Urbanesia mampu menggaet 450.000 visitor.

Bagaimana tingkat popularitas situs ini menurut Alexa.com?

Selina: Hampir setiap hari selalu naik. Makanya, kalau pagi-pagi kami paling senang buka Alexa.

Belum lama ini, East Ventures membeli sebagian saham Urbanesia. Keuntungan apa yang akan diperoleh Urbanesia setelah akuisisi tersebut?

Selina: Sebenarnya yang terterik untuk investasi di Urbanesia ada beberapa investor. Kami memilih East Ventures karena mereka sudah punya experience. Mereka memosisikan diri sebagai inkubator. Mereka jadi investor yang sekaligus memberi kami mentorship di awal-awal kami menjalankan Urbanesia. Pasalnya, saya dan Ade sebenarnya baru pertama kali menjalankan start up, meskipun Ade dulu sudah pengalaman sebagai web development. Kami berharap mereka dapat memberi mentorship agar kesempatan untuk sukses jauh lebih besar. Memang sudah terbukti juga. Sampai saat ini kami sudah banyak dapat tips dari mereka dan mereka juga banyak membantu kami mengarahkan jalannya perusahaan supaya resources-nya lebih terfokus. Sebenernya, dukungan moral juga ada, karena Batara Eto (partner di East Ventures) sudah sukses membangun Mixi. Jadi, dia benar-benar bisa kasih tahu kami bagaimana agar sukses seperti Mixi yang sekarang sudah memiliki sekitar 50 programmer. .

Untuk ke depan, ingin dijadikan seperti apa Urbanesia ini?

Selina: Saya ingin Urbanesia bisa jadi user generated content yang paling update di Jakarta dan memiliki user paling banyak. Kalau community Jakarta sudah solid, dengan sistem yang sudah ada kita bisa extend ke kota lain seperti Bandung dan Yogyakarta.

Ade: Kami juga sudah bekerja sama dengan dengan televisi lokal, yaitu O-Channel dan JakTV. Biaya yang dikeluarkan perusahaan tidak terlalu mahal, dan itu dibuatkan video serta diedit secara profesional. Sebentar lagi Urbanesia juga punya aplikasi Blackberry karena permintaan sudah ada. Dan akhir tahun ini, aplikasi Android juga diluncurkan. Mungkin untuk Android application bisa lebih cepat, tergantung dari perkembangan ponsel Android di Indonesia.

oleh : Army Meidinasari (SWA)

Tags: , , , , , ,
Category : Berita

2 Responses to “Urbanesia: Nantinya Lebih Akurat Dibanding Google”

  1. Jamie Pang mengatakan:

    Sick of obtaining low numbers of useless visitors to your website? Well i want to let you know about a fresh underground tactic that makes myself $900 each day on 100% AUTOPILOT. I really could be here all day and going into detail but why dont you merely check their site out? There is really a excellent video that explains everything. So if your seriously interested in making quick money this is the website for you. Auto Traffic Avalanche

  2. OSK Krakow mengatakan:

    You made some good points there. I did a search on the topic and found most people will agree with your blog.

Leave a Reply