Berita

Jumat, 15 April 2011

Lokasi IPMI, Jl. Rawajati Timur I/1 Kalibata – Jakarta Selatan.

13.30 –14.00 Pembukaan Pelatihan SWAStartup

14.00 – 15.30 Business & Marketing Strategy (Arlan Septia)

15.30 – 16.00 Istirahat

16.00 – 18.00 Business & Marketing Strategy (Arlan Septia)

18.00 – 19.00 Istirahat

19.00 – 21.00 Managing Team (Sonny Agustiawan)

Sabtu, 16 April 2011

Lokasi LSPR, Sudirman Park Office Complex Jl. K.H. Mas Mansyur Kav. 35 Jakarta Pusat 10220.

09.00 – 12.15 Business Communication (Rini Sanyoto)

12.15 – 13.00 Istirahat

13.00 – 16.00 Presentation & Negotiation Technique (Ermiel Thabrani)

16.00 – 16.15 Istirahat

16.15 – 17.15 Sharing Session (Wenas Agusetiawan dan Natali Ardianto)

Jumat, 29 April 2011

Lokasi IPMI, Jl. Rawajati Timur I/1 Kalibata – Jakarta Selatan.

13.30 – 15.30 Business & Marketing Strategy (Arlan Septia)

15.30 – 16.00 Istirahat

16.00 – 18.00 Business Simulation (Bambang Gunawan)

18.00 – 19.00 Istirahat

19.00 – 21.00 Managing innovation (Sony W. Antonio)

Sabtu, 30 April 2011

Lokasi LSPR, Sudirman Park Office Complex Jl. K.H. Mas Mansyur Kav. 35 Jakarta Pusat 10220.

09.00 – 12.15 Business & Financial Planning (Rikrik Febianto)

12.15 – 13.00 Istirahat

13.00 – 15.00 Start-up Management

15.00 – 15.15 Istirahat

15.15 – 17.15 Start-up Management

Jumat, 13 Mei 2011

Lokasi IPMI, Jl. Rawajati Timur I/1 Kalibata – Jakarta Selatan.

13.30 – 15.30 Business Simulation (Bambang Gunawan)

15.30 – 16.00 Istirahat

16.00 – 18.00 Business Simulation (Bambang Gunawan)

18.00 – 19.00 Istirahat

19.00 – 21.00 Legal Aspect (Ibrahim Assegaf)

Sabtu, 14 Mei 2011

Lokasi LSPR, Sudirman Park Office Complex Jl. K.H. Mas Mansyur Kav. 35 Jakarta Pusat 10220.

09.00 – 12.15 Business & Financial Planning (Rikrik Febianto)

12.15 – 13.00 Istirahat

13.00 – 15.00 Start-up Management

15.00 – selesai Penutupan Pelatihan SWAStartup

gy (Arlan Septia) IPMI Jl. Rawajati Timur I/1 Kalibata – Jakarta Selatan Business & Marketing Strategy (Arlan Septia) Business Simulation (Bambang Gunawan) Istirahat Istirahat Istirahat Business & Marketing Strategy (Arlan Septia) Business Simulation (Bambang Gunawan) Business Simulation (Bambang Gunawan) Istirahat Istirahat Istirahat Managing Team (Sonny Agustiawan) Managing innovation (Sony W. Antonio) Legal Aspect (Ibrahim Assegaf)

Bersama ini kami beritahukan, proses penilaian para juri terhadap paper yang masuk baru saja selesai. Kami mohon maaf atas keterlambatan dalam proses penilaian ini. Di samping ternyata membutuhkan waktu ekstra, juga karena ada anggota dewan juri yang sempat sakit, sehingga jadwal kompilasi data dari semua anggota dewan juri terpaksa mundur.

Nama 30 startup yang layak mengikuti pelatihan yang diselenggarakan SWA bersama para mitra pelatihan, akan dipublikasikan bersamaan dengan pemuatan Sajian Utama Digitalpreneur di edisi 04/2011 Majalah SWA (terbit 17 Februari 2011). Undangan pelatihan untuk 30 nama startup terpilih tersebut akan menyusul.

Demikian pengumuman ini disampaikan untuk dimaklumi.

Jakarta, 28 Januari 2011

Hormat kami,

Panitia SwaStartup 2011

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet yang cukup besar. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, jumlah pengguna internet yang mengakses di komputer maupun ponsel mencapai sekitar 45 juta. Hal ini menggerakkan sejumlah generasi muda untuk berkarya dan menekuni dunia teknologi informasi (TI) dengan menciptakan sebuah web atau situs yang bermanfaat untuk khalayak. Sejumlah start up companies muncul, dengan menawarkan pula sejumlah ide yang dituangkan dalam sebuah situs. Salah satunya adalah Urbanesia.com

Urbanesia.com didirikan oleh Selina Limman, dengan menggandeng dan Natali Ardianto (Ade) yang menempati posisi CTO (chief technology officer) Urbanesia. Mereka memulai start up ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan masing-masing terhadap web sejenis. Pada akhirnya mereka bekerja sama untuk membangun website city directory. Bagaimana website ini berkembang? Apa yang membuat Urbanesia akhirnya menjadi startup yang manarik dan menjanjikan secara bisnis yang membuat East Ventures akhirnya membeli sebagian sahamnya? Berikut perikan wawancara wartawan SWA, Army Meidinasari, dengan Selina dan Ade:

Bagaimana latar belakang didirikannya Urbanesia?

Selina: Kebetulan, dari dulu saat sekolah di luar negeri, saya sering pakai website city directory seperti Urbanesia. Saya lihat di sini belum ada. Website seperti ini yang mempunyai informasi tentang bisnis lokal dan kecil yang sangat dibutuhkan. Sebelumnya, saya juga pernah kerja bareng dengan Ade. Saya resign untuk memulai proyek Urbanesia. Terus ketemu lagi, kebetulan Ade punya keinginan yang sama untuk membuat bisnis ini. Kalau Ade terinspirasi dari website yang pernah dia kerjakan untuk klien. Kebetulan kami punya visi yang sama, sehingga kami bergabung untuk jalanin bisnis ini. Saat itu saya juga juga belum punya partner untuk programming. Dan, dari awal sampai sekarang banyak banget perkembangannya. Kami coba develop, kami ubah lagi, modify lagi, sehingga menjadi Urbanesia seperti sekarang. Total sumber daya manusianya hingga saat ini ada 17 orang, paling besar tim data entry.

Berapa budget yang digunakan?

Selina: Yang jelas waktu itu sudah ada budget, tapi sempet ada tambahan dari yang direncanakan semula.

Platform teknologi seperti apa yang digunakan di Urbanesia?

Ade: Secara teknologi basisnya pakai php, database-nya sql. Itu standar. Di Urbanesia, kami memanfaatkan Google Map, sehingga kami bisa mencari rute di Indonesia. Urbanesia lebih menekankan pada location based service-nya, teknologi search, yang tidak hanya mencari kata kunci, tapi juga jarak. Makin dekat jaraknya, nilainya makin besar. Makin baru update-nya, posisinya makin tinggi. Kami membuat website tidak hanya menampilkan informasi, tapi juga optimalkan search engine. Di situlah kekuatan website kami.

Selina: Location based service itu penting, dan nantinya searching melalui Urbanesia hasilnya lebih akurat dibandingkan Google. Sekarang kan sudah information overload, banyak halaman-halaman di internet yang sudah diindeks oleh Google. Urbanesia membantu menyaring informasi.

Apa peranan teknologi Web 2.0 untuk Urbanesia?

Selina: Waktu baru bikin Urbanesia, kami sadar bahwa peranan user penting banget untuk bantu kami melakukan update. Untuk business owner, juga bisa memberikan informasi paling update. Dengan web 2.0 ,semua user dapat berpartisipasi dalam website ini, misalnya mau menambahkan info bisnis, mau menulis testimonial, tambah foto, atau nge-tag peta longitude attitude. Web 2.0 digunakan agar user bisa berpartisipasi untuk menambahkan konten. Kalau rule-nya di internet Web 2.0 itu 90% konten diisi oleh business owner dan 10% dari user.

Siapa target utama dari Urbanesia?

Selina: Primary target kami adalah warga kota pengguna internet yang lebih konsumtif, seperti pekerja, keluarga muda atau student yang mungkin aktif dalam mengikuti tren gaya hidup sehari-hari. Secondary target audience-nya adalah business owner, dan mereka yang aktif mengkontribusi konten. Sebetulnya, user yang primary ini akan datang kalau ada kontennya. Makanya, kami support dengan content generator. Urbanesia ini adalah city directory, tapi platform di bawahnya ada social networking, yang nantinya terkoneksi ke Facebook, Twitter, dan bisa untuk verifikasi user di konten.

Model bisnisnya sendiri apa?

Selina: Sekarang, sebagian besar user memakai servis di Urbanesia, semuanya gratis. Yang bayar adalah business owner atau korporat yang kami kami servis untuk listing di Urbanesia.

Seberapa banyak iklan yang tayang di situs ini?

Selina: Kami nggak menggantungkan revenue dari iklan. Iklan lebih untuk meng-highlight konten, misalnya iklan acara, bisnis ritel, dan lain-lain. Untuk iklan, sekarang kami bekerja sama dengan Adnetwork.

Sudah berapa member yang dimiliki Urbanesia hingga saat ini?

Selina: Kami memiliki 5.000 anggota aktif. Tapi, kami belum launch. Urbanesia masih versi beta. Urbanesia mulai di-develop pada akhir 2008, dan versi beta di-launch November 2009. Sebenarnya, sekarang kami sudah rilis Urbanesia lewat media, tapi belum official launch. Saat ini, dalam sebulan, Urbanesia mampu menggaet 450.000 visitor.

Bagaimana tingkat popularitas situs ini menurut Alexa.com?

Selina: Hampir setiap hari selalu naik. Makanya, kalau pagi-pagi kami paling senang buka Alexa.

Belum lama ini, East Ventures membeli sebagian saham Urbanesia. Keuntungan apa yang akan diperoleh Urbanesia setelah akuisisi tersebut?

Selina: Sebenarnya yang terterik untuk investasi di Urbanesia ada beberapa investor. Kami memilih East Ventures karena mereka sudah punya experience. Mereka memosisikan diri sebagai inkubator. Mereka jadi investor yang sekaligus memberi kami mentorship di awal-awal kami menjalankan Urbanesia. Pasalnya, saya dan Ade sebenarnya baru pertama kali menjalankan start up, meskipun Ade dulu sudah pengalaman sebagai web development. Kami berharap mereka dapat memberi mentorship agar kesempatan untuk sukses jauh lebih besar. Memang sudah terbukti juga. Sampai saat ini kami sudah banyak dapat tips dari mereka dan mereka juga banyak membantu kami mengarahkan jalannya perusahaan supaya resources-nya lebih terfokus. Sebenernya, dukungan moral juga ada, karena Batara Eto (partner di East Ventures) sudah sukses membangun Mixi. Jadi, dia benar-benar bisa kasih tahu kami bagaimana agar sukses seperti Mixi yang sekarang sudah memiliki sekitar 50 programmer. .

Untuk ke depan, ingin dijadikan seperti apa Urbanesia ini?

Selina: Saya ingin Urbanesia bisa jadi user generated content yang paling update di Jakarta dan memiliki user paling banyak. Kalau community Jakarta sudah solid, dengan sistem yang sudah ada kita bisa extend ke kota lain seperti Bandung dan Yogyakarta.

Ade: Kami juga sudah bekerja sama dengan dengan televisi lokal, yaitu O-Channel dan JakTV. Biaya yang dikeluarkan perusahaan tidak terlalu mahal, dan itu dibuatkan video serta diedit secara profesional. Sebentar lagi Urbanesia juga punya aplikasi Blackberry karena permintaan sudah ada. Dan akhir tahun ini, aplikasi Android juga diluncurkan. Mungkin untuk Android application bisa lebih cepat, tergantung dari perkembangan ponsel Android di Indonesia.

oleh : Army Meidinasari (SWA)

Meski situs jejaring sosial dari luar negeri banyak meramaikan dunia maya, ternyata situs serupa buatan lokal pun diminati. Buktinya, Friends Uniting Program Especially Indonesian (FUPEI) sejak didirikan tahun 2004 oleh Sanny Gaddafi, kini berhasil menggaet 130 ribu member. Dan setiap harinya angka itu masih terus bertambah dengan jumlah sekitar 300 orang per hari.

Sanny mengaku, beberapa anggota FUPEI juga orang asing karena saat Sanny bekerja sama dengan seorang investor asal AS, server FUPEI berlokasi di luar negeri. Namun, saat ini servernya berlokasi di dalam negeri karena kerja sama dengan investor AS itu sudah putus. Pada dasarnya, semua kalangan dapat menggunakan FUPEI. Namun, sebagian besar pengguna FUPEI berasal dari usia 20-35 tahun dan 15-20 tahun, kata lulusan S1 jurusan IT dan Statistik Ubinus dan S2 bidang Finance Ubinus, itu.

Saat pertama dibuat, FUPEI belum memiliki berbagai fasilitas menarik seperti situs pertemanan lainnya. Kala itu member hanya bisa saling ‘connect‘ dengan rekannya di FUPEI, kirim-kiriman message, dan testimonial. Seiring berjalannya waktu, maka mulailah dilengkapi fasilitas album foto, musik, video, blog, e-card, games dan sebagainya.

Untuk pengembangan selanjutnya, FUPEI akan terus mempertajam fasilitas-fasilitas yang bersifat lokal sehingga memiliki keunikan tersendiri dibandingkan website-website yang sejenis. Salah satu fasilitas yang bersifat lokal dan menonjolkan keunikan FUPEI sebagai website jejaring sosial lokal adalah adanya 5 bahasa daerah yang dapat digunakan di FUPEI selain Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kelima bahasa daerah itu adalah bahasa Betawi, Jawa, Sunda, Minang dan Lampung. Semua itu juga atas bantuan para member yang sangat loyal dengan FUPEI. Mereka yang menerjemahkan bahasa-bahasa itu. Saya berikan fasilitas itu kepada mereka dan mereka mengerjakan dengan sukarela tanpa dibayar, jelas Sanny.

Selain itu, dengan mempertimbangkan banyaknya situs jejaring sosial yang kini tengah marak, FUPEI juga memberikan fasilitas untuk menghubungkan situs itu dengan Facebook. Ya kita tidak mungkin head to head dengan Facebook, ujar sulung dari 2 bersaudara ini.

Dukungan dan banyaknya publikasi dari media yang berisi ajakan untuk menggunakan website lokal, diakui Sanny, juga membantu website lokal untuk bersaing dengan website asing. Menurutnya, jumlah pesaing FUPEI sangat banyak, baik lokal maupun internasional. Dan karena alasan lokal ini pula FUPEI mencoba untuk terus meningkatkan fasilitas-fasilitas yang menonjolkan unsur-unsur lokalnya.

Namun, target FUPEI yang paling utama adalah mendapatkan investor untuk bisa mengembangkan FUPEI dengan lebih baik. Tidak perlu muluk-muluk untuk menjadi berskala internasional. Cukup di negara sendiri, seperti Mixi di Jepang, sebuah website social networking yang menjadi website nomor satu, jelas pria kelahiran Bekasi, 25 Agustus 1980.

Sanny optimistis dengan prospek FUPEI kelak. Ia menilai, seiring dengan makin mudahnya akses internet, maka prospek website dengan konten seperti ini akan semakin besar. (EVA)

oleh : Kristiana Anissa (SWA)

Koprol

Koprol

Pemain bisnis Internet besar rupanya mulai kesengsem dengan situs-situs asal Indonesia. Kabar yang cukup ramai diperbincangkan di ranah ini adalah langkah akuisisi Yahoo Inc. terhadap situs jejaring sosial berbasis lokasi dan layanan mobile, bernama Koprol.com. Kejadian ini menyusul masuknya East Ventures, venture capital berbasis di Singapura, yang dikomandoi Batara Eto ke Tokopedia.com.

Namun, masuknya Yahoo ke Koprol memang lebih menarik sebagai berita, karena Koprol kemudian menjadi bagian dari layanan Yahoo global. Yang juga menarik, mengapa Koprol yang menjadi sasaran tembak Yahoo, bukan situs lokal yang lebih ngetren dan sudah banyak anggotanya. Menurut Fajar Budiprasetyo, Chief Executive Officer SkyEight—perusahaan yang mengelola Koprol —salah satu faktor penting ketertarikan Yahoo karena melihat orang-orang yang membidani dan mengelola situs ini, yang dinilai cukup mumpuni. “Yahoo menganggap manajemen dan tim koprol mempunyai talent yang sangat kompeten,” ungkap Fajar.

Klaim Fajar tersebut memang diamini Pontus Sonnerstedt. Dalam kunjungan kerjanya ke Tanah Air, Country Manager Yahoo Indonesia ini mengakui ketertarikan pihaknya mengakuisisi Koprol karena melihat potensi bisnis dan kapabilitas yang dimiliki tim Koprol. “Mereka cerdas dan pekerja keras. Dengan sumber daya Yahoo, saya yakin Koprol akan tumbuh cepat, bukan saja untuk industri Internet di Indonesia tapi juga di luar,” jelas Sonnerstedt.

Akuisisi ini juga karena melihat talenta Indonesia lebih mengerti pasar lokal. “Akuisisi Koprol untuk meningkatkan audience Yahoo di sini. Saya yakin mereka lebih paham bagaimana kebutuhan audience di sini dengan sangat baik. Mereka lebih tahu apa yang harus dilakukan, dan bagaimana inovasinya,” sonnerstedt menambahkan. Boleh jadi, langkah akuisisi awal Yahoo ini juga lantaran Yahoo ingin mengenai karakter pengguna Internet Indonesia. Maklumlah, menurut Sonnerstedt, Indonesia menjadi pasar Internet paling menjanjikan di antara negara ASEAN lainnya. Selain itu, akses mobile Internet di Indonesia tahun ini tumbuh hingga 500%.

Bagaimana proses deal ini? Diungkapkan Fajar, proses akuisisi hingga dicapai kata sepakat membutuhkan waktu 3-4 bulan, hingga akhirnya Koprol diakusisi 100% oleh Yahoo (termasuk manajemen dan semua pegawainya). Dalam negosiasinya, kata Fajar, pihak Yahoo sangat proaktif. Dan, seperti pada proses akusisi umumnya, maka yang paling alot adalah menentukan purchase price. Berapa nilai akuisisinya? Sayangnya, baik Fajar maupun Sonnerstedt, enggan mengungkap nilai akuisisinya. “Maaf, kami tidak bisa berbicara mengenai term of acquisition. Pastinya, sangat menguntungkan dibandingkan dengan nilai investasi yang telah kami keluarkan,” kata Fajar mengelak. “Saya juga tidak mau bicara berapa nilai akuisi Koprol, sebab itu sifatnya konfidensial,” imbuh Sonnerstedt.

Yang pasti, lanjut Fajar, pihaknya rela melepas Koprol dengan pertimbangan bahwa itu merupakan tindakan terbaik bagi Koprol. Alasannya adalah membuat Koprol menjadi lebih besar. Dan, Yahoo diyakini memiliki kemampuan untuk itu. ”And they gave offer that we could not refuse,” ia menandaskan.

Diceritakan Fajar, Koprol mulai dilirik Yahoo ketika ada acara Yahoo Open Hack Day, Nopember tahun lalu. Ketika itu, pihak Yahoo menginginkan mitra lokal yang bisa mendemonstrasikan penggunaan API (application programming interface) situs mereka. Dan, Koprol, klaim Fajar, merupakan satu-satunya pengembang yang berhasil men-deliver permintaan itu. “Koprol menjadi mitra lokal Yahoo di event tersebut. Dari situ Yahoo melihat kinerja dan semangat kami yang dianggap cocok dengan mereka. Kira-kira satu bulan setelah itu, Yahoo expresse their interest of acquiring Koprol,” ungkap Fajar.

Akuisisi Koprol ini sekaligus mengawali ekspansi bisnis Yahoo di Indonesia. Yahoo sendiri sudah mulai masuk ke Indonesia pada 2005, dengan hanya menawarkan layanan Yahoo Answers, Mobile Product, Mobile Corporation, Yahoo Massanger dan sebagainya. Mulai tahun ini Yahoo lebih serius menggarap pasar Indonesia, dengan membuka kantor dan merekrut karyawan baru. Tahun lalu, Sonnerstedt mengklaim, pertumbuhan bisnis Yahoo di Indonesia mengalami double digit. Tahun ini, pasar Indonesia diperkirakan akan semakin kencang. Terutama dengan makin meningkatnya bisnis mobile Internet yang makin terjangkau. Bahkan, Yahoo meyakini Indonesia akan menjadi pasar mobile Internet paling besar di dunia.

Apakah Yahoo masih mengincar situs lokal Indonesia lainnya? “Soal peluang akusisi lainnya, kami selalu terbuka dengan segala kemungkinan. Kami selalu membuka mata untuk peluang itu. Kami selalu membuka diri untuk mereka yang bertalenta tinggi, pekerja keras dan memiliki ide-ide cemerlang,” ujar Sonnerstedt.

Ditargetkan Sonnerstedt, Yahoo akan melipatgandakan audience-nya. Saat ini, menurut Comscore, pada pelaporan bulan Maret, penggunaan Yahoo di Indonesia berkisar 77%. “Goal saya adalah membangun perusahaan dan bisnis di Indonesia, agar Yahoo menjadi nomor satu di mana orang bisa bekerjasama dan bekerja,” katanya lagi. (*)

Oleh A. Mohammad B.S.  (SWA)

Perkembangan startups di Indonesia sungguh mencengangkan. Dailysocial mencatat 111 startups Indonesia, dan ini belum termasuk startups yang belum mendapatkan ekspose baik via media cetak maupun online. Masih banyak komunitas di Jakarta (#startupLokal), Bandung (Fowab), Yogyakarta (Bancakan) dan Surabaya (Suwec) serta daerah-daerah lainnya yang masih menyimpan mutiara dalam sekam.

Masalah yang dihadapi oleh startups umumnya adalah persoalan penerapan manajemen perusahaan dan menemukan venture atau angel investor untuk melakukan funding. Dari sisi teknologi, para entrepreneur muda ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi merupakan pemikir-pemikir brilian. Namun, yang masih perlu mereka sadari, startups merupakan perusahaan juga. Artinya, aspek bisnis tidak dapat dikesampingkan atau pengelolaan bisnis dibiarkan jalan dengan sendirinya. Jika dasar-dasar bisnis ini tidak dipersiapkan dan diijalankan dengan baik, maka startups besar kemungkinan akan keburu mati sebelum berkembang dikarenakan masalah mismanajemen dan kehabisan dana.

Perencanaan yang matang — baik dari legalitas perusahaan, manajemen SDM, keuangan, dan pemasaran — merupakan aspek yang sering dilupakan oleh startups IT. SWA Media Inc. yang memiliki pengalaman di bidang marketing dan bisnis semenjak tahun 1985 ingin turut serta memberikan kontribusi bagi para startups di Indonesia dengan menyelenggarakan program SWAstartup. SWAstartup adalah sebuah pelatihan untuk para startups, yang akan menjadi bekal bagi para entrepreneur muda dalam memajukan bisnisnya dengan kokoh. Dengan pembicara-pembicara terbaik di bidangnya, diharapkan entrepreneur muda akan mendapatkan ilmu dan menyerap pengalaman-pengalaman yang tidak didapatkan dari sekedar membaca buku-buku referensi.

Selain itu SWAstartup akan merancang pertemuan startups dengan investor-investor lokal dan asing yang mungkin sangat sulit untuk ditemui di acara-acara biasa. SWAstartup akan menjadi katalisator startups Indonesia untuk berkembang lebih lekas dan kokoh.

Oleh karena itu, startups Indonesia, start your engine!

Tentang SWAstartup:

SWAstartup adalah sebuah program tahunan bagi Startups Indonesia. Mereka yang terpilih akan mendapatkan pelatihan selama tiga bulan, dipublikasikan di SWA dan dipertemukan dengan investor lokal dan asing.

Tentang SWA Media Inc.:

SWA merupakan majalah informasi dan peluang bisnis yang terbit pertama kali pada 1985. Kelompok usaha SWA Media Inc. kini terdiri: SWA (majalah bisnis), MIX (majalah marketing communications), SWAonline, MIXonline, SPOT Communications (corporate communications strategy), SWANETWORK (event management), BusinessDigest (research agency), SWAdigital (digital business data), dan SWA Publishing (pembuatan buku bisnis).